Sekretaris Kabinet Republik Indonesia, Teddy Indra Wijaya mengatakan, Presiden Prabowo Subianto berhasil membawa masuk investasi senilai Rp 2.430 triliun. Teddy menyebut, jumlah investasi tersebut merupakan hasil dari aktivitas Prabowo yang sering ke luar negeri dalam 1,5 tahun terakhir.
"Total investasi yang masuk dalam 1,5 tahun ini adalah sekitar Rp 2.430 triliun, itu data dari BKPM. Kemudian contoh konkret lagi nih, bulan lalu Presiden Prabowo ke Jepang dan Korea kembali langsung ada investasi sekitar Rp 575 triliun," kata Teddy Pernyataan tersebut disampaikan Teddy melalui unggahan resmi akun Instagram @sekretariat.kabinet pada Senin (1/6/2026).
Pernyataan itu merupakan respons atas kritik yang sebelumnya disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri RI periode 2014, Dino Patti Djalal. Teddy membantah jika kunjungan ke luar negeri hanya untuk gagah-gagahan dan aksi seremonial yang dilakukan Prabowo.
Namun, apakah angka yang disampaikan Teddy valid?
Bagaimana faktanya?
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, investasi perlu dibedakan menjadi dua macam. Pertama, investasi berupa Penanaman Modal Asing (PMA). Kemudian, investasi yang termasuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
"Ketika berbicara terkait dengan kunjungan ke luar negeri, artinya kita bicara terkait dengan PMA," kata Huda kepada Kompas.com, Rabu (3/6/2026). Menurut Huda, PMA yang masuk dari kuartal IV 2024-kuartal I 2026 ada sekitar Rp 1.400 triliun. Angka itu bersumber dari data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Rinciannya adalah sebagai berikut:
Kuartal IV 2024: PMA Rp 245,8 triliun (54,3 persen) | PMDN Rp 207,0 triliun (45,7 persen)
Kuartal I 2025: PMA Rp 230,4 triliun (49,5 persen) | PMDN Rp 234,8 triliun (50,5 persen)
Kuartal II 2025: PMA Rp 202,2 triliun (42,3 persen) | PMDN Rp 275,5 triliun (57,7 persen)
Kuartal III 2025: PMA Rp 212,0 triliun (43,1 persen) | PMDN Rp 279,4 triliun (56,9 persen)
Kuartal IV 2025: PMA Rp 256,3 triliun (51,6 persen) | PMDN Rp 240,6 triliun (48,4 persen)
Kuartal I 2026: PMA Rp 250,0 triliun (50,1 persen) | PMDN Rp 248,8 triliun (49,9 persen)
Total PMA yang masuk Indonesia selama Prabowo menjabat presiden adalah Rp 1396,7 triliun. Sementara, total PMDN mencapai Rp 1.486,1 triliun.
Perbedaan data
Kendati demikian, kata Huda, data investasi yang dicatat oleh BKPM tersebut juga tidak bisa dipertanggungjawabkan karena berbeda dengan data Bank Indonesia. "Data PMA yang dicatat oleh Bank Indonesia sebagai pencatat arus modal berbeda jauh dengan data BKPM," ujar Huda.
Huda menyebutkan, angka PMA tahun 2025 dari BKPM mencapai Rp 900 triliun, tapi angka yang dicatat oleh Bank Indonesia di angka Rp 353 triliun. "Jadi, jauh gap (selisih) antara kedua data tersebut," tuturnya.
Sumber : Kompas.com
